informaPK(?)

yes. seperti yang saya baca di sini, katanya ada sayembara menulis artikel mengenai impian kita jika menjadi ketua KPK. sebenernya sih saya ngga pernah bermimpi, apalagi bercita-cita menjadi ketua KPK. tapi karena saya suka menulis, saya merasa tertantang untuk membuat artikel ini dan berimajinasi se-liar mungkin jika saya menjadi ketua KPK kelak. challenge accepted, sir! *ikat kepala*

well, karena KPK nggak punya kuasa untuk mengamanden UUD atau membuat undang-undang sendiri dan karena saya adalah mahasiswa Teknik Informatika yang memperdalam bidang Software Engineering atau Rekayasa Perangkat Lunak (RPL), jadi saya akan menerapkan ilmu ke-RPL-an yang saya pelajari ke dalam misi suci nan mulia yang akan saya laksanakan ketika menjadi ketua KPK kelak.

Jadi, dalam ilmu RPL, dikenal-lah suatu istilah yang disebut dengan System Development Life Cycle. Apa itu System Development Life Cycle? Ngga perlu saya jelaskan lah ya. Bisa dibaca sendiri. Di sini yang akan saya paparkan adalah “apa hubungan antara System Development Life Cycle dengan misi saya jika menjadi Ketua KPK?“.

 

Gambar di atas merepresentasikan siklus pengembangan perangkat lunak. Penasaran ya “apa sih kaitannya gambar itu dan KPK?” Mari kita bahas!😀

Lihat panah yang ada angka “1” nya? Panah tersebut merupakan representasi fase awal di mana client mengajukan permintaan untuk dibuatkan sebuah sistem yang terkomputerisasi. Nah, jika dikonversi ke permasalahan misi si mimpi jika menjadi ketua KPK, fase ini adalah fase di mana Bapak/Ibu pembuat sayembara memohon meminta saya untuk menjadi orang nomor 1 di KPK alias menjadi Ketua KPK.

Masuk ke fase Requirement Analysis. Di fase ini, developer Ketua KPK (ceritanya di sini saya ketua KPK nya) mulai bekerja. Layaknya analisis permintaan sistem, saya juga akan menganalisis kebutuhan KPK baik kebutuhan fungsional maupun non fungsionalnya.

Setelah berhasil membuat daftar kebutuhan fungsional dan non fungsional KPK, masuklah saya ke fase designing. Saya akan merancang misi berikut program-program kerja yang akan saya laksanakan kelak. misi dan program kerja saya rancang berdasarkan daftar kebutuhan fungsional dan non fungsional yang sudah saya buat di tahap requirement analysis. Oh iya, yang paling penting dari perancangan misi dan program kerja ialah misi dan program kerja yang dibuat harus realistis. misal: Misi KPK adalah memberantas kasus korupsi hingga ke akar kasus beserta pelaku-pelakunya. Program kerja pendukung misi tersebut yakni pemasangan cctv dan alat sadap di tempat-tempat “rahasia” yang strategis untuk dijadikan tempat “transaksi” kasus korupsi. Itu realistis bukan? Jangan merancang misi dan program kerja yang nggak masuk akal lah. Seperti ini contohnya: Misi KPK adalah menguasai dunia. Program kerja pendukung misi tersebut yaitu membeli semua saham besar dunia. Itu kan nggak realistis. walaupun sedikit nyambung sama kasus korupsi sih. Kan kalau KPK berhasil menguasai dunia dan punya kuasa buat memperlakukan hukum dan si koruptor dengan semena-mena. Jadi orang-orang takut buat korupsi deh. hehe. tapi sekali lagi saya tekankan, ITU TIDAK REALISTIS. dan saya nggak akan membuat misi dan progam kerja yang seperti itu. Saya sih lebih baik realistis dari pada merancang misi dan program kerja yang berlebihan tapi ngga bisa dilaksanakan karena apa yang dirancang di fase ini akan sangat mempengaruhi kerja KPK pada fase implementasi kelak.

Misi dan program-program kerja sudah berhasil dirancang, inilah saatnya saya membusungkan dada, berdiri tegap dan terbang seperti superman bertindak nyata! Pada fase implementing, saya akan buktikan bahwa saya nggak cuma jago menggombal dan nyuruh-nyuruh orang merancang saja, tapi saya juga jago merealisasikan apa yang sudah saya rancang di sini bersama rekan-rekan yang membantu saya di KPK kelak. Ada banyak faktor yang mempengaruhi berhasil atau tidaknya program kerja yang berjalan di fase ini. Diantaranya yaitu:

1. Teamwork. Kalau Team pemberantas korupsinya kompak, sesulit apapun misi dan cobaannya nanti, walau badai datang dan bumipun bergoyang, insya Allah program kerjanya jalan dan misinya terpenuhi deh.

2. Kinerja anggota team. Cari anggota yang paham betul dengan hakikat dari KPK itu sendiri. Jangan sampai ada anggota team yang belum pernah tau mengenai seluk beluk KPK. atau bahkan anggota KPK nya malah seorang master korupsi(?) Alamat ditimpukin oncom sama rakyat itu mah pasti. Untuk masalah ini mungkin saya bisa hire mantan koruptor yang udah taubat nasuha. Siapa tau dari beliau, rahasia, trik-trik nggak ketahuan korupsi nya jadi terbongkar dan kita jadi lebih mudah menyusun strategi untuk mengungkap tabir kejahatan korupsi plus pelaku-pelaku korupsinya juga.

3. rancangan misi dan program kerja yang dibuat di fase designing. Seperti yang sudah saya utarakan sebelumnya, kalau rancangan program kerja dan misinya nggak realistis, bisa gagal diimplementasikan lah.

Program kerja sudah dijalankan. Saatnya masuk ke tahap testing. Kalau di perangkat lunak, yang diuji adalah kode program. Untuk masalah KPK, yang diuji nanti adalah strategi-strategi yang dijalankan oleh KPK di tahap implementasi. “KPK punya berapa strategi sih untuk menyelesaikan suatu kasus korupsi? apakah strategi-strategi tersebut sudah bisa menangani segala kemungkinan sebagai wujud reaksi dari tersangka pelaku korupsi?”

Tahap testing selesai, masuk ke tahap evaluating/maintenance. Setelah diuji, saya akan mengevaluasi strategi-strategi yang digunakan untuk mengungkap kasus korupsi. “dengan strategi yang telah dibuat dan dijalankan, apakah koruptor berhasil dibasmi? apakah kasus korupsi sudah tuntas diberantas? apakah misi KPK sudah terpenuhi?” Jika jawabannya “Ya”, maka selesai sudah tugas saya sebagai Ketua KPK. Saya kembalikan lagi pada Ibu/Bapak yang membuat sayembara ini. Namun jika Ibu/Bapak ingin saya yang maintenance KPK, maka saya akan kembali ke tahap requirement analysis, designing, implementing, testing, evaluating/maintenance. Begitu seterusnya. Dan jika jawabannya “Tidak”, maka saya akan kembali ke tahap requirement analysis, designing, implementing, testing, evaluating/maintenance hingga jawaban Ibu/Bapak berubah menjadi “Ya”.

Begitulah. Siklus ini akan berhenti ketika KPK dibubarkan atau Bapak/Ibu memutuskan untuk mencari Ketua KPK lain untuk merancang dan menjalankan sistem baru di KPK.

Tapi ini cuma artikel mimpi bukan? kalaupun ide liar saya ini diterima, bukan berarti saya yang akan menjadi the next KPK leader kan ya? yah siapapun yang akan menjadi ketua KPK kelak, saya cuma mau bilang, semangat Pak, Bu! Menjadi pemimpin itu memang berat. apalagi memimpin suatu badan pembela kebenaran, which is nggak sejalan dengan kaum-kaum ber uang yang melakukan kesalahan. Tapi tahukah Bapak/Ibu mengapa menjadi pembela kebenaran itu susah? Karena surga itu indah. Selamat berjuang. Semoga tetap istiqomah🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s